Naik Taksi

Ini adalah kisah ibuku yang senang melakukan segala sesuatu dengan cepat, sebenernya sih lebih cenderung terburu-buru karena hasilnya memang sering ga maksimal.

Suatu ketika, ibu telah selesai fotokopi di sebuah copy shop dan akan menuju ke kampus dengan waktu yang mepet. Sambil agak terburu-buru, ibu menyebrang jalan sambil mencari-cari taksi yang available di sekitar situ. Beberapa menit kemudian, terlihat taksi berwarna putih dengan available sign di atasnya.

Ibuku langsung melambaikan tangan, untuk menyetop taksi tersebut. Taksi berhenti tepat di depan ibuku, kemudian beliau langsung membuka pintu. Tetapi ternyata didalam sudah ada pengemudi dan rekannya di sebelah, dimana mereka berseragam coklat lengkap dengan segala lencana serta topi polisi yang diletakkan di dashboard.

“Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu?” sapa kedua polisi itu dengan keheranan.

“Oh maaf pak,  saya kira taksi..” Kata emakku tersipu-sipu sambil menutup pintu mobil   ;p

Thousand Miles from Home and Heart

Semakin hari sepasang sahabat itu terlihat semakin kurus dan kurang tersenyum. Aku mengerti kondisi mereka yang berat ini. Mereka berdua, mas Dedi dan mas Nursid adalah peneliti di Departemen Kelautan dan Perikanan yang rela meninggalkan istri dan anak-anak yang sedang tumbuh lucu demi meningkatkan karirnya dengan melanjutkan sekolah program Doktoral di kampusku. Tetapi di kampus ini mereka bertempat di lab kimia murni dengan jam kerja yang over dari pk 09.00 – 24.00, dimana sang professor membebani pekerjaan berat yang tidak ada hentinya meskipun hari libur. Mereka juga menghadapi kehidupan di lab dimana mereka harus bekerjasama dengan professor  yang tak manusiawi, sering memaki dengan kata-kata kasar dan suka menghina.

Satu semester pertama mereka masih berstatus research students sebelum menginjak status mahasiswa doctoral. Belum genap 1 semester, setelah berbagai keluhan bernada halus (saking sabarnya), mereka sempat memutuskan untuk kabur dari Korea. Tetapi  rupanya mereka tidak begitu kompak, hanya mas Dedi saja yang ingin pergi, sedangkan mas Nursid masih bisa mentolerir keadaan yang ada. Sehingga rencana kabur mereka menjadi batal karena mereka memegang teguh prinsip “datang bersama, pulang bersama”

Tetapi hari itu, aku mendengar rencana mereka untuk benar-benar meninggalkan Korea plus keterangan bahwa mereka berdua telah bersepakat dan bertekad bulat. Dengan bantuan seorang teman, mas Lilik, mereka telah memesan tiket penerbangan keesokan hari dari bandara internasional Incheon . Itu berarti mereka akan pergi selambat-lambatnya malam itu. Apapun yang mereka putuskan, aku berharap semoga itulah yang terbaik bagi keduanya.

Selanjutnya tugasku adalah membantu mereka meninggalkan asrama dengan aman serta menyiapkan taksi untuk membawa mereka ke stasiun Busan.
Sekitar pk 20.30, aku memanggil taksi ke asrama. Mereka masih berada di kamar untuk mengepak  barang-barang terakhir serta tak lupa mereka meninggalkan kunci kamar, buku tabungan dan ATM beserta no PINnya karena menurut mereka, uang di dalamnya bukanlah hak mereka. Setelah semua siap, 2 buah koper besar dan 2 buah koper kecil kami bawa menuju taksi yang parkir di depan gerbang asrama.

Hal ini tentu saja menarik perhatian penjaga asrama yang berada di pos penjagaan, dia keluar dan bertanya padaku dengan bahasa Korea akan pergi kemana mereka berdua dan sampai kapan perginya. Aku jawab saja bahwa mereka akan pergi mengikuti conference di Indonesia selama 1 bulan. Kami bergegas meninggalkan tempat sebelum si penjaga bertanya lebih banyak lagi. Sebelum sampai ke gerbang universitas, mas Lilik sudah menunggu untuk bergantian tempat denganku dan mengantarkan mereka sampai stasiun Busan. Mas Dedi dan mas Nursid akhirnya pergi meninggalkan ketidakmanusiawian beratas nama pendidikan.

mas nursid dan mas dedi

Selang  2 hari kemudian, aku mendapat kabar dari seorang teman Indonesia yang tinggal di asrama juga bahwa professor mereka menghubungi asrama untuk menanyakan keberadaan pasangan sahabat tersebut. Dan memang benar, ketika aku berpapasan dengan bapak penjaga asrama, dia marah dan mengatakan bahwa aku telah berbohong padanya. Aku tetap pada kesepakatan dengan mereka bahwa aku tidak akan bicara apapun tentang kepergian teman-temanku itu.

Selanjutnya aku berkali-kali mendapat telpon dari Office of International Relation (OIR) menanyakan hal yang sama karena aku satu-satunya orang yang terlihat pergi bersama mereka. Ketika aku dipanggil di ruang OIR, seorang staff yang juga teman baikku mengatakan bahwa mereka berdua kabur dengan membawa uang lab sehingga itu merupakan tindak kriminal dan bisa dilaporkan ke kepolisian. OIR mendapatkan laporan tersebut dari professor di lab, dan aku tahu betul bahwa itu semua fitnah. Aku tetap tidak berkata apapun selain

“Saya sangat yakin mereka berdua tidak mungkin melarikan uang lab, jadi tidak masalah jika OIR ingin membawa ini ke kepolisian. Kalaupun mereka benar-benar kabur dari sini, saya sangat memahami keputusan mereka dan saya pikir OIR pasti juga sudah tahu reputasi professor itu yang sebelumnya sudah kehilangan 11 mahasiswa asing dengan kasus yang sama.”

Aku menyarankan agar OIR menghubungi keduanya langsung, meskipun aku yakin saat itu mereka berdua pasti masih trauma untuk membicarakan hal-hal yang berbau Korea.

Tidak cukup sampai disitu, beberapa minggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa professor tersebut mengirimkan surat kepada seorang professor Indonesia yang dulunya telah memberikan rekomendasi kepada mas Dedi dan mas Nursid. Surat itu berisi pencemaran nama baik luar biasa; yaitu bahwa keduanya telah bersikap buruk selama berada di lab dan melarikan uang lab, sehingga keduanya tidak pantas untuk direkomendasikan untuk melanjutkan S3 ke sekolah manapun.

Sejak itu tidak ada kabar lagi tentang mereka berdua sampai saat ini ketika aku sudah kembali ke Indonesia, mas Nursid kini sedang melanjutkan S3 di kota yang sama denganku, sedangkan mas Dedi masih bekerja di Jakarta dan mendaftar beasiswa ke negeri sakura.

Selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian yang kadang kita tidak bisa melihatnya saat itu juga tetapi butuh waktu untuk bisa menyadarinya.

Sosok Tak Tercitra dari Namanya

Aku mendengar curhat seorang teman baik yang punya nama sedikit unik. Inti curhat itu adalah tentang nama dirinya yang diberikan atas kekaguman ayahnya pada sosok pejabat Orde Baru yang (unfortunately) tidak lagi dikenal baik di mata masyarakat.

Karena teman itu rajin liat fesbukku dan bisa berakhir pertemanan kami, kalo aku cerita yang sesungguhnya, aku buat rekayasa kisahnya aja…

Ambillah contoh, sang Ayah kagum pada sosok Edy Tansil yang merupakan pengusaha kaya dan sukses di masa itu. Maka, saat si jabang bayi pertamanya muncul ke dunia, diberilah nama Edy Tansil dengan harapan agar bisa sesukses jutawan itu kelak ketika besar nanti. Tapi namanya juga manusia, sesempurna apapun dia, pasti pernah melakukan kesalahan. Ya, Edy Tansil telah melakukan kesalahan besar yang membuat masyarakat negri ini murka. Edy Tansil menggelapkan uang sebesar1,3 triliun melalui kredit di Bank Bapindo. Saat itu, uang 1,3 triliun adalah jumlah uang terbesar yang pernah kudengar, yang mungkin kalo uangnya ditumpahkan semua ke sebuah situ bisa untuk berenang-renang seperti paman Gober. Asal tidak jebol ajatanggulnya, bisa-bisa warga sekitar langsung kaya mendadak.

Okay then, Edy Tansil ini tidakcukup jantan menghadapi konsekuensi perbuatannya, tahun 1996 dia kabur dari LP Cipinang sehingga dinyatakan sebagai buron oleh Kepolisian Republik Indonesia. Gambar Edy Tansil dengan berbagai kemungkinan penyamaran disebarluaskan ke daerah-daerah di seluruh pelosok negeri. Aku sempat menyimpannya, takut-takut si Edy mampir ke rumah untuk minta air minum atau numpang ke WC. Sampai sekarang, tidak ada kabar tentang nasib si Edy Tansil itu.

ini yang namanya Edy Tansil kan? ;p

ini yang namanya Edy Tansil kan? ;p

Lha si anak yang bernama Edy Tansil itu sungguh tertekan. Namanya disebut-sebut sebagai seorang penjahat, tidak jantan, buron, dsb meskipun bukan sosok anak itu yang dimaksud. Ketampanannya pun tak mampu menghindarkan dirinya dari cengar-cengir gadis-gadis manis yang berkenalan dan langsung pikirannya berasosiasi dengan sosok koruptor. Saat beranjak dewasa, si anak mengajukan kepada ayahnya beberapa nama yang dianggapnya lebih baik dari Edy Tansil agar namanya diganti, tapi sang ayah menolak.

Yah, apalah arti sebuah nama. Toh nama itu diberikan oleh ayahnya dengan cinta, doa dan harapan yang baik bagi si anak. Tak ada bayangan seorang penjahat, setelah aku sedikit lebih mengenal “Edy Tansil” yang aktif dikegiatan kemahasiswaan, menyayangi teman dan pacar-pacarnya serta mencintai ibundanya ini.

Kalau saja Edy Tansil, sang buronan, tidak melakukan kejahatan itu, pasti sampai saat ini orang masih mengenalnya sebagai pengusaha sukses yang patut dicontoh atau malah orang tidak mengenalnya sama sekali. Dan tidak ada masalah dengan nama teman baikku ini tentunya. Well, we never know exactly what we will be in the future..

Mungkin ada baiknya jika kelak ketika memberi nama anakku nanti, akan kupilih nama seorang heroik yang sudah menjadi sejarah saja (meninggal maksudnya). Misalnya, Diponegoro, yang dikenang sebagai pahlawan Indonesia dalam perang padri melawan penjajah Belanda atau Teressa, nama tokoh ibunda yang baik hati dan penuh cinta sesama. Beliau-beliau ini sudah almarhum dan pengorbanannya dikenang sebagai jasa yang sangat berarti bagi umat manusia sepanjang sejarah. Tidak mungkin kan beliau-beliau ini bangkit dari kubur =>jadi pejabat => korupsi => ditangkap KPK => masuk bui => dikenang oleh masyarakat sebagai koruptor.. (kebanyakan nonton TV!!)

애인 있어요 - I have a lover

 ein issoyo

아직도 넌 혼잔 거니 물어보네요 난 그저 웃어요
Ajig do non honja goni muroboneyo Nan geujo usoyo-
You ask if I’m still alone, I just smile

사랑하고 있죠 사랑하는 사람 있어요
Saranghago ijjyo, saranghanen saram issoyo
I’m in love. I have a lover

그대는 내가 안쓰러운건가 봐
geude nen nega an seroun gon gaba
It looks like you feel sorry

좋은 사람 있다며 한번 만나보라 말하죠
joheun saram iddamyon hanbon manna bora marhajyo
Saying that you know someone nice, that I should meet him once

그댄 모르죠
geuden moreujyo
You don’t know

내게도 멋진 애인이 있다는걸
nege do motjin ein itta nen gol
That I have a handsome lover too

너무 소중해 꼭 숨겨두었죠
Nomu sojunghe kog sumgyo duo jyo
I hide him because he is too precious
REFF
그 사람 나만 볼수 있어요 내 눈에만 보여요
Geu saram na man bolsu issoyo, ne nune man boyoyo
Only I can see him, Only to my eyes

내 입술에 영원히 담아둘거야
ne ibsure yongwoni dama dulgoya
I will hold him in my lips forever

가끔씩 차오르는 눈물만 알고 있죠
gakeum sik chaoreuneun nunmul man algo ijjyo
Only tears that fill my eyes once in a while know
그 사람 그대라는걸
Geu saram geute ranen gol
That person is you

 

나는 그 사람 갖고 싶지 않아요
Naneun geu saram gagosipji anayo
I don’t want to have that person

욕심 내지 않아요
Yogsim haji anayo
Don’t want to be greedy

그냥 사랑하고 싶어요
geunyang sarang hago sipoyo
I just want to love

그댄 모르죠
geuden moreujyo
You don’t know

내게도 멋진 애인이 있다는걸
nege do motjin ein itta nen gol
That I have a handsome lover too

너무 소중해 꼭 숨겨두었죠
Nomu sojunghe kog sumgyo duo jyo
I hide him because he is too precious

Back to REFF
알겠죠 나 혼자 아닌걸요 안쓰러워 말아요
Algejjyo nan honja anin golyo An serowo marayo
I’m not alone, don’t feel sympathy

언젠가는 그 사람 소개 할게요
Onje ganen geu saram soge halgeyo
I’ll introduce him to you one day

이렇게 차오르는 눈물이 말하나요
Irogke chaoreuneun nunmuli maranayo
Are my tears telling you?

그 사람 그대라는걸
Geu saram geute ra nen gol
That person is you…

Lagu Happy Birthday

Imgp6054

Di Korea, ternyata lagu Happy Birthday ada plesetannya juga. Jadi, waktu ulang tahunnya mas Lilik tgl 17 Agustus, kita ada acara potong cake bersama, karena kebetulan ulang tahunku 3 hari sebelumnya. Saat potong kue, temen kita, Hojun nyanyiin lagu plesetan Happy Birthday dalam bhs Korea

Happy Birthday to you -> We teonanni? (ngapain kamu dilahirkan?)
Happy Birthday to you -> We teonanni? (ngapain kamu dilahirkan?)
Happy birthday, happy birthday -> Irok-ke salgo..o (hidup cuman kayak gini)
Happy birthday to you -> We teonanni? (ngapain kamu dilahirkan?)

Hahahahaa….  dasar njuun..

Next Page »