Semakin hari sepasang sahabat itu terlihat semakin kurus dan kurang tersenyum. Aku mengerti kondisi mereka yang berat ini. Mereka berdua, mas Dedi dan mas Nursid adalah peneliti di Departemen Kelautan dan Perikanan yang rela meninggalkan istri dan anak-anak yang sedang tumbuh lucu demi meningkatkan karirnya dengan melanjutkan sekolah program Doktoral di kampusku. Tetapi di kampus ini mereka bertempat di lab kimia murni dengan jam kerja yang over dari pk 09.00 – 24.00, dimana sang professor membebani pekerjaan berat yang tidak ada hentinya meskipun hari libur. Mereka juga menghadapi kehidupan di lab dimana mereka harus bekerjasama dengan professor yang tak manusiawi, sering memaki dengan kata-kata kasar dan suka menghina.
Satu semester pertama mereka masih berstatus research students sebelum menginjak status mahasiswa doctoral. Belum genap 1 semester, setelah berbagai keluhan bernada halus (saking sabarnya), mereka sempat memutuskan untuk kabur dari Korea. Tetapi rupanya mereka tidak begitu kompak, hanya mas Dedi saja yang ingin pergi, sedangkan mas Nursid masih bisa mentolerir keadaan yang ada. Sehingga rencana kabur mereka menjadi batal karena mereka memegang teguh prinsip “datang bersama, pulang bersama”
Tetapi hari itu, aku mendengar rencana mereka untuk benar-benar meninggalkan Korea plus keterangan bahwa mereka berdua telah bersepakat dan bertekad bulat. Dengan bantuan seorang teman, mas Lilik, mereka telah memesan tiket penerbangan keesokan hari dari bandara internasional Incheon . Itu berarti mereka akan pergi selambat-lambatnya malam itu. Apapun yang mereka putuskan, aku berharap semoga itulah yang terbaik bagi keduanya.
Selanjutnya tugasku adalah membantu mereka meninggalkan asrama dengan aman serta menyiapkan taksi untuk membawa mereka ke stasiun Busan.
Sekitar pk 20.30, aku memanggil taksi ke asrama. Mereka masih berada di kamar untuk mengepak barang-barang terakhir serta tak lupa mereka meninggalkan kunci kamar, buku tabungan dan ATM beserta no PINnya karena menurut mereka, uang di dalamnya bukanlah hak mereka. Setelah semua siap, 2 buah koper besar dan 2 buah koper kecil kami bawa menuju taksi yang parkir di depan gerbang asrama.
Hal ini tentu saja menarik perhatian penjaga asrama yang berada di pos penjagaan, dia keluar dan bertanya padaku dengan bahasa Korea akan pergi kemana mereka berdua dan sampai kapan perginya. Aku jawab saja bahwa mereka akan pergi mengikuti conference di Indonesia selama 1 bulan. Kami bergegas meninggalkan tempat sebelum si penjaga bertanya lebih banyak lagi. Sebelum sampai ke gerbang universitas, mas Lilik sudah menunggu untuk bergantian tempat denganku dan mengantarkan mereka sampai stasiun Busan. Mas Dedi dan mas Nursid akhirnya pergi meninggalkan ketidakmanusiawian beratas nama pendidikan.

Selang 2 hari kemudian, aku mendapat kabar dari seorang teman Indonesia yang tinggal di asrama juga bahwa professor mereka menghubungi asrama untuk menanyakan keberadaan pasangan sahabat tersebut. Dan memang benar, ketika aku berpapasan dengan bapak penjaga asrama, dia marah dan mengatakan bahwa aku telah berbohong padanya. Aku tetap pada kesepakatan dengan mereka bahwa aku tidak akan bicara apapun tentang kepergian teman-temanku itu.
Selanjutnya aku berkali-kali mendapat telpon dari Office of International Relation (OIR) menanyakan hal yang sama karena aku satu-satunya orang yang terlihat pergi bersama mereka. Ketika aku dipanggil di ruang OIR, seorang staff yang juga teman baikku mengatakan bahwa mereka berdua kabur dengan membawa uang lab sehingga itu merupakan tindak kriminal dan bisa dilaporkan ke kepolisian. OIR mendapatkan laporan tersebut dari professor di lab, dan aku tahu betul bahwa itu semua fitnah. Aku tetap tidak berkata apapun selain
“Saya sangat yakin mereka berdua tidak mungkin melarikan uang lab, jadi tidak masalah jika OIR ingin membawa ini ke kepolisian. Kalaupun mereka benar-benar kabur dari sini, saya sangat memahami keputusan mereka dan saya pikir OIR pasti juga sudah tahu reputasi professor itu yang sebelumnya sudah kehilangan 11 mahasiswa asing dengan kasus yang sama.”
Aku menyarankan agar OIR menghubungi keduanya langsung, meskipun aku yakin saat itu mereka berdua pasti masih trauma untuk membicarakan hal-hal yang berbau Korea.
Tidak cukup sampai disitu, beberapa minggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa professor tersebut mengirimkan surat kepada seorang professor Indonesia yang dulunya telah memberikan rekomendasi kepada mas Dedi dan mas Nursid. Surat itu berisi pencemaran nama baik luar biasa; yaitu bahwa keduanya telah bersikap buruk selama berada di lab dan melarikan uang lab, sehingga keduanya tidak pantas untuk direkomendasikan untuk melanjutkan S3 ke sekolah manapun.
Sejak itu tidak ada kabar lagi tentang mereka berdua sampai saat ini ketika aku sudah kembali ke Indonesia, mas Nursid kini sedang melanjutkan S3 di kota yang sama denganku, sedangkan mas Dedi masih bekerja di Jakarta dan mendaftar beasiswa ke negeri sakura.
Selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian yang kadang kita tidak bisa melihatnya saat itu juga tetapi butuh waktu untuk bisa menyadarinya.
Recent Comments